PENGARUH UMUR TRANSPLANTASI STEK DAN KONSENTRASI AUKSIN PADA PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.)
R. Noeriwan Budi S.
I.K. Prasetyo
Eny Dyah Yuniwati
Abstract
Rendahnya ketersediaan benih kentang yang bermutu menyebabkan harga benih kentang G4 di pasaran sebesar Rp. 20.000/kg, sehingga dengan kebutuhan 1,5 ton/ha maka petani mengalokasikan Rp. 30jt/ha untuk pengadaan benih kentang atau 60 % dari biaya produksi. Alternatif lain selain penggunaan benih umbi yaitu dengan perbanyakan vegetatif cara stek pucuk. Tujuannya untuk mendapatkan bibit tanaman kentang dalam waktu singkat yang mempunyai kualitas sama dengan indukannya. Akan tetapi pelaksanaannya, petani belum banyak mengetahui pada umur berapa bibit kentang stek itu siap tanam, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui umur transplantasi yang sesuai di lapang dan penambahan auksin untuk merangsang pembentukan akar dan membantu kesiapan tanam kentang. Penelitian dilakukan di rumah kaca yang bertempat di Dusun Ngadirejo, desa Tutur, Kecamatan Nongkojajar, Kabupaten Malang. Lokasi mempunyai ketinggian tempat 1700 dpl. Penelitian dilakukan mulai bulan April sampai dengan Juli akhir 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan Faktorial. Penelitian dilakukan dalam 3 ulangan dengan perlakuan utama adalah umur transplantasi yang dibagi 3 macam yaitu P1: 2 MSS (minggu setelah stek), P2: 3 MSS, P3: 4 MSS yang didalamnya ada penambahan konsentrasi larutan auksin yaitu Z-1: 1,87 mg , Z-2: 3,74 mg , Z-3 : 5,61 mg dan Z4 : 0 mg (kontrol). Hasil analisis statistik didapat bahwa umur transplantasi 3 MSS (P2) menunjukan umur optimal untuk di transplantasikan ke lahan. Penambahan auksin pada tahap pembibitan berpengaruh nyata pada masing-masing perlakuan umur transplantasi dan membantu kesiapan tanam pada tahap transplantasi. Berat umbi panen terbanyak dimiliki oleh perlakuan P2-Z2 (3 MSS+3,74 mg) 7,25 g dan P2-Z1 (3 MSS+1,87 mg) 6,69 g